Jumat, 22 Januari 2016

Gaulmu Adalah Masa Laluku




Dulu aku pun juga pernah begitu. Dan bahkan mungkin aku lebih buruk dari mereka. Jangan kalian pikir hidupku dari awal sudah lurus-lurus saja. Aku pun juga pernah tersesat. Tapi aku bersyukur, sebab Allah sudah meluruskan kembali hidupku. Sejauh apapun aku berlari, tapi dosa di masa lalu terus saja menghantuiku. Sebab itulah, pentingnya mengapa kita harus berfikir lebih dulu sebelum bertindak. Agar kita tak menyesal di kemudian hari. Mungkin sekarang kalian memandang aku sebagai wanita baik-baik. Itu semua karena Allah menutupi semua aib-aibku. Andai saja kalian tau akan dosa-dosaku, mungkin kalian akan jijik dan tak mau lagi mengenalku. 

Ketika aku memutuskan untuk berhijrah. Tentu itu bukan hal mudah buatku. Bahkan, banyak pula teman yang meninggalkanku. Tapi aku bersyukur, sebab Allah menunjukkan siapa teman yang akan membawaku ke jalan yang lebih baik, dan siapa teman yang mengajakku dalam kesesatan. Aku merasa nyaman dengan hidupku yang sekarang. 

Mungkin dulu penampilan dan pakaianku tak memperhatikan auratku. Tapi kini hijab sudah melekat di tubuhku. Mungkin dulu aku tak mau melewatkan yang namanya konser musik, sering kali keluar malam. Tapi kini dunia keramaian seperti itu tak menarik lagi bagiku. Mungkin dulu aku begitu terobsesi mempercantik fisik. Tapi kini aku sadar, jika kecantikan fisik tidaklah abadi. Kini aku pun tak lagi iri dengan mereka yang sudah berstatus pacaran. Memilih sendiri dan jomblo adalah kemauanku. Sebab akan ada saatnya sendiri, aku akan dipertemukan dengan orang yang tepat. 

Gaul adalah bagian dari masa laluku. Aku hanya ingin ketenangan dalam hidupku. Jangan cari aku di masa lalu. Karna aku sudah tak hidup di sana lagi.

Sabtu, 16 Januari 2016

Ikhlaskan, Lepaskan, Maafkan :-)


Saat kau mulai mengenal cinta, maka kau juga akan mengenal sakit. 
Saat kau belajar tentang cinta, maka kau juga akan belajar tentang mengikhlaskan dan melepaskan. 
Ada saatnya orang yang kau cintai akan pergi meninggalkanmu. 
Saat itulah kau akan belajar untuk mengikhlaskannya. 
Bila memang ada sesuatu yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, sebaiknya kau lepaskan saja. 
Tak usah kau menangisinya.
Karna itu hanya akan membuatmu terlihat lemah di matanya. 
Kalaupun air matamu sudah tak tertahan lagi, menangislah dalam sujudmu. 
Adukan kepadaNya tentang perasaanmu terhadapnya. 
Pahit dan perih yang kau rasa hari ini, telan semuanya.
Maka esok manis akan kau rasa. 
Maafkanlah. . . 
Maka hatimu akan tenang. 
Tak perlu kau risau masalah cinta. 
Karna Allah akan gantikan dengan yang lebih baik lagi. 
Hidup itu pilihan. 
Bahagia itu selalu ada, dan kau sendiri yang menciptakannya. 
Tersenyumlah. . . 
Berbahagialah. . . 
Bersyukurlah. . . 
La Tahzan. . . 
Innallahama'ana :-)

Rabu, 06 Januari 2016

“BELAJAR OTODIDAK”





Saya berkali-kali mengatakan, ilmu tidak hanya didapat dari pendidikan formal saja. Ilmu bisa kita dapat dari mana saja. Tempat untuk menuntut ilmu bukan hanya di sekolah, di kampus, di lembaga pendidikan informal atau semacamnya. Tapi, kita juga bisa belajar banyak hal di mana saja. Itulah yang membuat saya termotivasi untuk terus belajar. Jujur, meskipun kuliah adalah cita-cita saya, tapi saat ini saya belum berkesempatan akan hal itu. Ya. . . kan nasib orang berbeda-beda. Ada yang setelah lulus SMA langsung bisa kuliah, ada yang harus bekerja lebih dulu, bahkan ada yang tidak berkesempatan untuk kuliah. Nah. . . termasuk yang manapun kalian, tak ada alasan untuk tidak belajar. 

Itu yang saya lakukan sekarang. Meskipun saya sekarang bekerja, bukan berarti saya tidak tau apa-apa. Setiap kali saya memiliki waktu luang atau hari libur, saya akan memanfaatkan waktu tersebut untuk belajar. Kebetulan penghasilan saya juga pas-pasan, jadi tidak memungkinkan kalau saya harus ikut bimbingan di lembaga-lembaga pendidikan informal apalagi sampai memanggil guru privat. Lantas ??? Ya, saya belajar sendiri.  Atau lebih dikenal dengan istilah belajar otodidak. 

Banyak cara untuk belajar secara otodidak. Kita bisa membaca buku. Atau, sekarang semua kan serba mudah. Kita bisa browsing-browsing di internet. Kita mau cari apa aja, mau nanya apa aja, pasti google siap menjawabnya. Tapi saya biasanya lebih senang membaca buku daripada browsing di internet. Ya mungkin karna minus mata saya sudah terlalu banyak, jadi mata saya cepat lelah kalau harus terlalu lama menatap layar monitor atau layar HP. Tapi juga banyak kok yang lebih suka browsing di internet. Ya, semua itu kan tergantung diri masing-masing. Belajar itu tidak dibatasi oleh cara, waktu, dan  juga tempat.

Terkadang dalam keadaan yang serba terbatas, kita dituntut untuk menjadi orang yang kreatif. Belajar secara otodidak merupakan salah satu contohnya. Kenapa saya mengatakan belajar otodidak itu kreatif ? Begini alasannya :

1. Meskipun tidak memiliki biaya untuk kuliah, untuk memanggil guru privat, atau mengikuti lembaga pendidikan informal, tetapi orang otodidak masih bisa belajar sendiri. 
2. Belajar otodidak tidak menuntut untuk menjadi orang yang banyak bertanya. Setiap kali ada hal yang tidak dimengeti, orang yang belajar otodidak pasti berupaya mencari tau sendiri jawabannya. 
3. Mereka yang belajar otodidak tidak membatasi ilmunya. Mereka sering kali mengkaitkan dan mengombinasikan ilmu yang mereka pelajari dengan ilmu lainnya. 
4. Biasanya orang yang belajar otodidak, sembari ia belajar teori juga dibarengi dengan prakteknya. Tidak seperti mereka yang belajar dengan pembimbing. Mereka harus terlebih dahulu mempelajari teori yang dijelaskan oleh pembimbing, baru mempraktekkannya. 
5. Rasa ingin tahu orang yang belajar otodidak itu sangat tinggi. Sedangkan rasa ingin tahu kan juga mempengaruhi kreatifitas. Jadi jelas kan kalau orang otodidak sudah pasti kreatif. 
6.  Dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Yang terpenting dalam belajar otodidak adalah, harus lebih banyak bersabar dan tidak mudah putus asa. Bukannya apa, segala sesuatu yang memiliki kelebihan, pasti kan juga ada kekurangannya. Nah, termasuk juga dengan belajar otodidak. Belajar otodidak biasanya membutuhkan waktu  yang cukup lama. Itu alasan kenapa orang yang belajar otodidak  harus memiliki kesabaran yang tinggi. Selain itu, orang yang belajar  otodidak biasanya juga lebih banyak gagalnya. Ya makhlum sih, kan mereka harus belajar sendiri tanpa pembimbing. Tapi, saran penulis buat yang mau belajar otodidak jangan pernah menyerah ya. Percayalah, tiada usaha yang mengkhianati hasil. Semangatttt. . . . :-)

Yang jadi masalah adalah seringkali adanya diskriminatif. Orang yang belajar otodidak seringkali dianggap  orang yang ngawur. Ya mungkin karena mereka belajar tanpa  seorang pembimbing. Seringkali juga orang yang belajar otodidak diremehkan kemampuannya. Padahal, sekarang ini sudah banyak orang yang hebat dan berhasil karena belajar otodidak. Pernah dengar kan orang yang tidak bergelar sarjanapun, tapi  berkat belajar otodidak ia bisa menjadi seorang manajer, bos dan lain sebagainya. So, memang, orang yang belajar otodidak kemampuannya sudah tidak bisa lagi diragukan.
Eitttssssss. . . jangan lupa berdoa ya sebelum belajar. Allah Yuftah Alaikum :-)

Selasa, 05 Januari 2016

You're My Inspiration





Assalamualaikum yang jauh di sana :-) 

Maafkan hati ini yg selama ini mencintaimu dalam diam. Maafkan diri ini bila terlalu menggantungkan kebahagiaan terhadapmu. Namun jalan sudah berbeda. Pada akhirnya kau menghilang dan pergi. Aku pun sadar diri menjauh. Sampai jumpa. Entah kapan. . 

Aku ingat Imam Syafii pernah berkata apa. Seseorang yg terlalu menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, maka Allah akan timpahkan rasa pedih akan sebuah pengharapan. Tentu karena Allah itu sangatlah pencemburu. Yang harus aku lakukan adalah mengikhlaskanmu & membiarkanmu memilih apa yang kamu mau. Aku percaya, sesuatu yg ditakdirkan untukku, selamanya tdk akan pernah menjadi milik orang lain. Kalaupun pada akhirnya kau harus bahagia dgn pilihanmu dan itu bukan aku, tentu hati ini sudah tak lagi terluka. Karena sesungguhnya Allah lah pemilik hati ini. 

Biarkan aku terus menyebut namamu dlm sepertiga malam terakhirku. Biarkan aku trs mendoakanmu tuk mengobati rindu ini. Semoga kau bahagia dlm kesemogaanku :-) . 

Terima kasih untukmu yg sudah menjauh. Dengan itu, aku lbh mendekatkan diri kepada Allah. Denan kehilanganmu, akan ku jadikan moment hijrah dan kembali mendekat kepadaNya. Mungkin Allah sudah sangat merindukanku. Bagiku kau tak lbh hanya sekedar inspirasiku. 

Terima kasih :-) .

Sabtu, 02 Januari 2016

Yukkk Berwirausaha !!!. . .




Bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang besar tidak selamanya menyenangkan. Seberapapun banyaknya gaji yang kita terima, tetap saja kita bekerja untuk orang lain. Terkadang kita sudah merasa puas dengan gaji besar yang kita peroleh. Sampai tak sadar jika kita sudah terjebak dalam zona nyaman. 

”Loh bukannya rasa puas itu menunjukkan jika kita bersyukur atas apa yang kita peroleh ? Kenapa kita harus menuntut lebih ? Itu kan artinya kita tidak mensyukurinya ?” Seringkali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan kritikan seperti itu. Saya pun bisa mengerti, namanya opini pasti kan ada yang setuju juga ada yang tidak. Ya saya rasa, yang mengkritik seperti itu sebenarnya hanya salah persepsi saja. Bukannya saya ingin mengajak pembaca untuk tidak bersyukur. Tapi coba deh, kita sekarang berfikir tidak hanya secara matrealistis saja, tapi juga secara realistis. 

Untuk pembaca yang merasa bekerja sebagai karyawan di perusahaan orang lain, mungkin sebagian besar dari kalian pernah tersilap pertanyaan-pertanyaan pada diri kalian sendiri. Misalnya : “Kenapa kok saya bekerja untuk orang lain terus ? Kapan ya saya bisa jadi bos ?” Ya tidak semuanya sih seperti itu Tapi saya yakin, pasti rata-rata seperti itu. Termasuk juga si penulis ini. 

Nahh, mulai sekarang kita harus bisa keluar dari zona nyaman. Jangan sampai kita terlena hanya karena gaji besar. Suatu keberhasilan yang kita capai hari ini, bukan berarti juga akan menjamin keberhasilan di hari esok. Sebab itulah kita juga harus memikirkan langkah kedepannya. Jangan karna sekarang kita sudah bekerja di perusahaan besar, lantas kita sudah merasa puas begitu saja. Apalagi sekarang susah nyari perusahaan yang mempekerjakan karyawannya secara tetap. Yang ada rata-rata perusahaan menggunakan sistem kontrak. Nah, bagaimana jika masa kontrak kalian sudah habis ? Apa yang kalian lakukan setelahnya ? Apa kalian ingin memerpanjang kontrak ? Atau kalian ingin melamar pekerjan lagi di perusahaan lain ? Mau sampai kapan akan seperti itu ? Mau sampai kapan terus menobatkan diri sebagai pencari kerja ? Apa tak lebih enak jika kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri ? Kita mencurahkan seluruh tenaga kita untuk usaha kita sendiri tanpa harus dimonitor oleh orang lain. Pikirkan baik-baik ? :-D Itu alasan mengapa penulis mengajak pembaca untuk berwirausaha. 

Mengingat, semakin hari usia kita juga semakin tua. Bila dipikir secara logika, apakah perusahaan masih mau mempekerjakan orang yang sudah tua apalagi lanjut usia. Tentu tidak kan ? Nah, kalo kita berwirausaha kita kan punya pegangan penghasilan. Kita masih tetap mendapat penghasilan dari usaha kita sendiri. Ya mungkin uang yang kita peroleh dari berwirausaha tidak sebanyak gaji yang kita dapatkan saat bekerja di perusahaan besar. Kita juga tidak bisa langsung memperoleh penghasilan yang besar begitu saja. Ya namanya juga usaha, pasti tidak ada yang instant kan ? Para pengusaha besar saja mereka juga memulainya dari nol. Mereka juga melewati proses yang panjang untuk bisa seperti itu. 


Yuk…. Mulai sekarang kita tabung sebagian gaji kita untuk membuka usaha sendiri. Mari kita dukung pertumbuhan ekonomi mandiri di Negara kita sendiri. Mengingat sekarang juga sudah memasuki era #MEA2016. Nasib ada di tangan kita, memilih menjadi pemenang atau sekedar penonton saja. Jujur, saya miris karna banyak yang sudah terlena dengan gaji besar yang diperolehnya saat bekerja di perusahaan asing. Ingat ya, seenak-enaknya mendapat gaji besar tapi kita bekerja untuk orang , tetap saja lebih enak jika kita memiliki usaha sendiri. Kalau kata Pak Ir. Soekarno, Kita harus bisa berjalan di atas kaki sendiri. Ya seperti berwirausaha misalnya !! 

Yah… tapi semua pilihan tergantung kalian sendiri. Pemikiran setiap orang kan berbeda-beda. Lakukan apa yang menurutmu itu terbaik. Penulis hanya menyarankan untuk masa depan kalian. Ya dengan berwirausaha, seperti yang penuliis jelaskan panjang lebar tadi. Yes berwirausaha, mengapa tidak ? 